ayat hafazan

1.

Katakanlah (wahai Muhammad): “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang menurutku, menyeru manusia umumnya kepada ugama Allah dengan berdasarkan keterangan dan bukti yang jelas nyata. Dan aku menegaskan: Maha Suci Allah (dari segala i`tiqad dan perbuatan syirik) dan bukanlah aku dari golongan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain”. (Yusuf : 108)

2.Ciri – ciri golongan bertaqwa

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali – Imran : 146)

3.

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah dan RasulNya, serta orang-orang yang beriman, yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, sedang mereka rukuk (tunduk menjunjung perintah Allah) (Al-Maidah : 55)

4.

Dan barangsiapa yang mengangkat Allah, rasulNya dan orang-orang yang beriman itu penolongnya ( maka berjayalah dia), kerana sesungguhnya golongan (yang berpegang kepada agama) Allah, itulah yang tetap menang (Al Maidah : 56)

Salah satu pengajaran dari kisah seerah yang boleh kita ambil ialah kisah Khalid Al Walid,

KHALID AL-WALID CONTOH INSAN TAAT & IKHLAS

Khalid al-Walid r.a. merupakan di antara sahabat yang seharusnya menjadi contoh umat Islam di sepanjang zaman. Beliau terkenal sebagai pahlawan jihad dalam penyebaran dakwah Islamiyyah. Gahnya Islam kerana jihad dan mundurnya umat Islam kerana meninggalkan jihad.

Peringkat jihad yang pertama ialah mengingkari dengan hati dan peringkat yang paling tinggi ialah berperang di jalan Allah. Di antara kedua-dua peringkat jihad itu terdapat jihad lisan, tulisan, tangan dan menyatakan kebenaran kepada pemerintah yang zalim. Dakwah tidak akan hidup tanpa jihad, sejauh mana ketinggian dan ruang lingkup dakwah pada jalan Allah, begitu jugalah ketinggian dan keluasan jihad pada jalan Allah. Begitulah juga mahalnya harga yang diperlukan untuk membantu perjuangan dakwah dan besar pula pahala bagi mereka yang beramal.

KISAH PERLUCUTAN JAWATAN

Khalid al-Walid adalah seorang panglima yang sentiasa menang dalam peperangan yang disertainya dengan izin Allah. Beliau seorang yang ikhlas mengharapkan keredaan Allah dan tidak memandang sebarang keuntungan, kemegahan, gelaran dan kedudukan. Beliaulah seorang tentera fikrah dan aqidah, bukan tentera yang mengejar sesuatu kepentingan.

Beliau juga seorang yang taat, mematuhi perintah dan melaksanakannya, baik di waktu senang dan susah, dalam perkara yang disukai atau dibenci. Inilah contoh yang agung dari para sahabat Rasulullah s.a.w.

Apabila khalifah Umar al-Khattab mengutuskan surat perlucutan jawatan kepada Khalid al-Walid dan menyerahkan kepimpinan kepada Abu Ubaidah Al Jarrah. Beliau taat, sedangkan ketika itu panji-panji dipegang oleh Khalid al-Walid bersama tentera muslimin sedang menghadapi pertempuran dahsyat yang sememangnya diketahui oleh sejarah. Tentera Islam ketika itu tidak sampai 40 000 orang dan tentera Rom melebihi 200 000 orang.

Beliau tidak menghentikan perang sekalipun berita yang datang itu adalah suatu perkara yang amat besar ke atas dirinya, malah dia meneruskan peperangan sehinggalah selesai berhadapan dengan musuh-musuh Allah dengan kemenangan kepada tentera Islam. Seterusnya dia tidak pergi ke khemahnya sehingga dia memanggil Abu Ubaidah Al Jarrah tampil kehadapan dan menyerahkan kepimpinan serta kuasa ketua kepadanya. Kemudian dibaca perintah khalifah. Khalid kemudian berkata: �Aku hanyalah seorang tentera kamu yang mendengar dan taat wahai Abu Ubaidah�.

5.

“Janganlah orang-orang yang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi teman rapat dengan meninggalkan orang-orang yang beriman. Dan sesiapa yang melakukan (larangan) yang demikian maka tiadalah ia (mendapat perlindungan) dari Allah dalam sesuatu apapun, kecuali kamu hendak menjaga diri daripada se (suatu bahaya yang ditakuti dari pihak mereka (yang kafir itu). Dan Allah perintahkan supaya kamu beringat-ingat terhadap kekuasaan diriNya (menyeksa kamu). Dan kepada Allah jualah tempat kembali.” (Ali-‘Imran : 28)

6.

Maksudnya: Dan juga (lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menyahut dan menyambut perintah Tuhannya serta mendirikan sembahyang dengan sempurna; dan urusan mereka dijalankan secara bermesyuarat sesama mereka; dan mereka pula mendermakan sebahagian dari apa yang Kami beri kepadanya (Surah As-Syura : 38)

Sedikit kupasan mengenai ayat ini

Amal jamai dalam amal da’wi menuntut pemahaman syar’i yang benar, kematangan berpikir, dan kedewasaan dalam bersikap, sehingga menghasilkan kebijakan yang tepat, efektif, berkah, dan diridhai Allah SWT. Hal tersebut dapat dilihat dari proses pengambilan kebijakan dan komitmen serta konsistensi dalam melaksanakan keputusan yang dihasilkan dari syura.

Syura Salah Satu Pilar Sistem Islam yang Harus Membudaya di Seluruh Lapisan Masyarakat
Allah SWT menyejajarkan syura dengan shalat dan zakat, yaitu syura hukumnya wajib seperti halnya shalat dan zakat, bahkan sebagai pilar sistem masyarakat Islam yang apabila tidak diamalkan berarti telah melakukan dosa besar dan meruntuhkan tatanan masyarakat Islam. Allah SWT berfirman dalam surat Asy-Syura ayat 38,
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima(mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkankan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Syura sebagai Budaya Masyarakat Islam
Dalam ayat ini Allah SWT berfirman وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ (dan urusan mereka adalah syura). Nash ini menegaskan bahwa syura dalam masyarakat Islam bukan hanya teori, apalagi hanya sekedar wacana. Akan tetapi, harus sudah menjadi budaya yang melekat di dalam kehidupan bermasyarakat. Kalimat, “dan urusan mereka adalah syura,” lebih tinggi tingkatannya dari kata yang menunjukkan perintah, seperti misalnya, “Bersyuralah kalian,” “Laksanakanlah syura olehmu,” “Kamu wajib bermusyawarah,” dan kata-kata semisalnya.
Kalimat, “Dan urusan mereka adalah syura,” konotasinya bahwa mereka sudah membiasakan syura dalam kehidupan sehari-hari mereka dan sudah menjadi sistem kehidupan. Sedangkan kalimat, “Bersyuralah kalian,” adalah kata perintah yang menuntut respon dari yang menerima perintah, mungkin melaksanakannya, mungkin juga tidak, dan ketika dilaksanakan pun belum tentu berkelanjutan. Bisa jadi hanya dilaksanakan sekali kemudian terputus tidak pernah dilakukan lagi.

Syura sebagai Prinsip yang Harus Ditegakkan dalam Semua Marhalah
Syura sebagai prinsip yang harus ditegakkan dalam semua marhalah, baik marhalah tersebut sirriyah atau marhalah jahriyah, marhalah jamaah atau marhalah daulah, di saat mudah maupun susah, pada kondisi lemah atau kuat, di waktu jumlah kader masih sedikit atau sudah banyak, ketika struktur masih terbatas atau sudah mapan, dan seterusnya. Kita tahu bahwa surat Asy-Syura di antara surat-surat makkiyah (yang diturunkan pada periode Makkah), di periode umat Islam secara jamaah masih sedikit, secara tandzim masih sangat terbatas, kekuatan masih sangat lemah, dan marhalah dakwah baru marhalah jamaah belum memasuki marhalah daulah, rasulullah dan para shahabatnya sudah membudayakan syura.

Ketika sudah sampai pada marhalah daulah dan Rasulullah SAW sebagai kepala negara, di mana sistem sudah mapan dan masyarakat Islam sudah mandiri, kewajiban menegakkan syura diperkuat dan dipertegas kembali dengan perintah Allah SWT dalam surat Ali imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya.”

Ayat di atas adalah ayat-ayat madaniyah (diturunkan pada periode Madinah) dan setelah Perang Uhud, yang paling tidak mengandung dua pelajaran sangat berharga, yaitu sebagai berikut:

1.Ketika dakwah sudah luas, jamaah sudah besar, kader sudah banyak, dan tanzhim sudah kokoh, budaya syura harus dipertahankan dan diperkuat lagi; demikian pula dengan implementasinya juga harus diperkuat. Dalam hal ini Allah SWT menegaskan kembali kepada Rasulullah sebagai qiyadah jamaah dan kepala negara dengan perintah
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
“dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”

2.Ayat ini diturunkan setelah perang uhud, di mana dalam menentukan sikap: apakah kaum muslimin keluar dari Madinah untuk menghadapi musuh (musyrikin Quraisy), keputusannya diambil dengan mekanisme syura, yang kemudian hasil dari Perang Uhud, kaum Muslimin mengalami kekalahan. Secara tidak langsung, kekalahan di Perang Uhud ini adalah karena keputusan syura yang menetapkan keluar dari Madinah untuk berperang, dan hasilnya kalah. Di sini Allah SWT ingin menegaskan bahwa syura adalah prinsip ajaran Islam yang harus ditegakkan. Apapun hasilnya, itulah yang terbaik (bersambung)

7. Akhlak dan beberapa sifat nabi Muhammad s.a.w.

159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Ali-‘Imran : 159)

One response to “ayat hafazan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s