Monthly Archives: January 2010

Le Grand Voyage & Arranged

1. Le Grand Voyage
This heart touching film tells the story of Reda, a French-Moroccan teenager who lives with his family in Southern France who was asked by his devout father to accompany him on a pilgrimage (Hajj) to Mecca by car, travelling across Europe & Middle East. He reluctantly agrees because he is preparing for his Baccalauréat exam & even more important, he has a secret love relationship with his French girlfriend. Nevertheless, his father still insists him to accompany him.

As both of them embark on a road trip thousands of kilometres from Southern France to Mecca, the once icy father & son relationship starts to thaw as both gradually come to know each other. Reda learns more about Islam & why his father thought it would be preferable to make the pilgrimage by car rather than by aeroplane. The route taken by them goes from France through Italy, Slovenia, Croatia, Serbia, Bulgaria, Turkey, Syria & Jordan before reaching Saudi Arabia. Along the way, they stop at several places, experience several incidents & meet several interesting characters.

This is the first film permitted by the Saudi Arabian government to be shot during the Hajj season.

2. This marvellous film centers on two young women. One is an Orthodox Jew & the other is a religious Muslim. They meet and become friends as first year teachers at a public school in Brooklyn, New York. Over the course of the year, they learn that they share much in common, especially the fact that they are both going through arranged marriages.

This inspirational film really shows that Muslims & Jews can be friends. Who says that we can’t so. As long as we respect & understand each other, there will be no harm. Friendship has no religion.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Syakhsiah Kader Dakwah

Hidup merupakan perjuangan, berjuang untuk menunaikan tugas dakwah yang mulia. Tugas yang tak pernah usai seiring perjalanan waktu. Malah semakin bergulirnya waktu semakin bermunculan tugas baru. Sebagaimana komentar seorang pujangga, ‘terbitnya fajar, merekahkan harapan cerah dan membawa sekelumit beban’. Akan tetapi bagi seorang aktivis dakwah waktu menjadi jalannya kehidupan. Sehingga kader dakwah selalu menata waktunya demi kehidupan yang ia jalani agar senantiasa siap menyongsong tugas yang ada dihadapannya.

Bukanlah sesuatu yang dipungkiri bahwa tugas dakwah memang bukanlah tugas yang ringan. Ia banyak liku dan kendala yang rumit. Baik dari pihak eksternal ataupun dari internal sendiri. Terkadang tugas dakwah menjadi beban berat untuk dipikul. Terlebih lagi bagi mereka yang berkepribadian rentan dan rapuh. Tugas itu menjadi tembok besar yang teramat sulit untuk dilewati. Mereka akan berkecil hati menatap tugas demi tugas. Terasa berat untuk menggerakan kaki dan tangan menerima tugas tersebut.

Namun tidak demikian bagi kader pilihan. Mereka akan berupaya maksimal untuk dapat menunaikan tugas mulia itu dengan sebaik-baiknya. Bahkan kader yang berkepribadian amal da’awy akan menyongsongnya dengan gembira. Tidak ada dalam diri mereka, kamus lelah dan ciut menyambut tugas. Karena tugas itu akan menjadi momen untuk mengukir sejarah hidupnya dengan tinta emas bagi kemenangan dakwah ini. Ia menjadi mulia bersama dakwah atau mati dengan keharuman sikap perilakunya dalam amal Islam.

Ketika Syaikh Mutawalli Sya’rawi menyampaikan pidatonya dalam suatu acara, bahwa amanah umat ini teramat berat. Karena kompleksitas masalah yang dihadapinya. Dan disertai penghalangnya dari musuh-musuh umat yang tidak pernah henti untuk menghancurkannya. Disamping itu kader dakwah yang memandu amanah ini sulit untuk didapatkan. Maka kepada siapa amanah umat ini diserahkan?. Hasan Al Banna bergumam dalam hatinya ketika mendengar ceramah sang Syaikh, ‘aku ingin, akulah orangnya yang akan mengemban amanah itu. Beginilah sikap kader dakwah yang brilian dalam menyambut tugasnya.

Menyikapi kenyataan ini bahwa tugas dakwah dan kepribadian kader merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dimana keduanya saling mempengaruhi. Maka perlu disadari pada seluruh kader untuk membangun dirinya agar menjadi kader-kader pilihan yang sanggup memikul tugas dakwah ini dengan hati lapang. Sehingga tugas demi tugas dapat tertunaikan dengan baik. Bila kader dakwah tidak lengah dalam masalah ini dan selalu berusaha untuk meningkatkan kepribadian dirinya dalam mengemban amanah ini maka ia dapat menaklukan dunia sebagaimana obsesi Imam Hasan Al Banna Rahimahullah. Sang Imam pernah mengungkapkan obsesinya dalam Risalahnya Kepada Pemuda, bahwa ia bisa menaklukan dunia dengan kader-kader pilihan dibawah binaannya. ‘Siapkan 12 ribu kader, aku akan bina mereka dan aku akan taklukan dunia dengan bersama mereka’.

Melalui pemahaman ini upaya untuk meningkatkan kepribadian diri dalam mengemban tugas dakwah ini menjadi perilaku harian bagi kader dakwah.

Tidak boleh ada kesempatan yang terbuang dan tidak terpakai untuk agenda ini. Agar kepribadiannya tidak melempem, tidak pula mendua tetapi kepribadian yang tangguh dan ulet dalam amal dakwah. Selayaknya setiap kader menata dirinya dengan sungguh-sungguh agar dapat merealisasikan obsesi sang Imam. Untuk itu para kader dakwah perlu menyiapkan diri agar memiliki kepribadian yang dapat menuntaskan tugas dakwah dan merealisaikannya:

1. Bina ruhil ghirah (Membangun Ruh Keghairahan)

Menyadari banyaknya tugas dakwah yang perlu diemban, kader dakwah harus membangun keghairahannya. Keghairahan untuk terus berbuat dan berjuang demi tegaknya dakwah. Sehingga semangatnya berkobar-kobar. Tidak pernah lemah sedikitpun dalam menghadapi rintangan. Tidak pernah layu dengan bergulirnya zaman. Tidak pernah gentar karena tantangan. Ia bagaikan batu karang di tengah lautan yang kokoh menghadapi terjangan ombak.

Abul ‘Ala Al Maududi mengingatkan kader-kadernya, ‘bila kalian menyambut tugas dakwah ini tidak sebagaimana sikap kalian terhadap tugas yang menyangkut urusan pribadi kalian maka dakwah ini akan mengalami kekalahan yang telak. Oleh karena itu sambutlah tugas ini dengan ghairah. Amatlah tepat taujih Abul ‘Ala Al Maududi ini bila melihat sederetan tugas dan harapan umat. Bila saja kader dakwah memahami dengan betul maka mereka akan berupaya untuk menjaga keghairahannya agar tidak pernah redup sedikitpun. Karena ia akan berakibat fatal dalam menunaikan tugas ini.

Sebaliknya jiwa yang berghairah dalam menyambut tugas-tugasnya akan mudah untuk menyelesaikannya. Ia bahkan dapat menemukan celah-celah sempit untuk menjadi peluang besar yang akan menjadi menyebab kemenangan dakwah ini. Ia tidak pernah mundur tatkala bahaya menghadang. Ia tidak lelah ketika peluh bercucuran. Yang ada dalam benaknya adalah kami siap mengembannya untuk sebuah kemenangan.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim”.. (Ali Imran: 139 – 140).

Karena itu sepantasnya bagi kader untuk selalu berusaha meningkatkan ghairahnya melalui amalan-amalan yang disunnahkan Rasulullah SAW. sehingga ghairahnya tidak kendur. Apakah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, mengkaji sejarah kepahlawanan Islam, membayangkan pahala dan balasan yang dijanjikan Allah SWT., bercermin dari kehidupan kader-kader daerah terpencil yang sangat bersemangat untuk menyebarluaskan dakwah ini ataupun dengan kiat-kiat lainnya. Amalan tersebut menjadi bahan bakar untuk semangatnya agar selalu bergelora.

Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid mengingatkan “gelorakan semangatmu wahai ikhwah dan jangan kendur sedikitpun marilah maju bersama kafilah dakwah ini. Siapa yang tidak lagi bersemangat maka janganlah ikut barisan kami”.

2. Tasyji’u ruhil mubadarah (Membangkitkan semangat inisiatif)

Memahami tugas dakwah yang rumit maka setiap kader hendaknya selalu membangkitkan semangat berinisiatif. Agar dapat mensikapi dengan cepat apa yang sedang dihadapi dakwah ini. Tentu dengan mengacu pada kententuan syar’i. Sehingga aktivis dakwah tidak linglung dan bingung untuk segera berbuat atas sesuatu yang perlu segera disikapi. Selayaknya seorang kader tidak pernah mati inisiatifnya. Ia selalu berinisiatif untuk membela dakwah dengan berbagai potensi yang ada pada dirinya.

Seorang pujangga mengingatkan bahwa matinya inisiatif akan menutup banyak peluang. Malah ia melihat apa yang dihadapannya menjadi momok yang menakutkan. Ia akan menjadi orang yang penakut pada sesuatu yang belum terjadi bahkan ia sudah membayangkan dengan bayang-bayang hitam yang sangat mengerikan. Umat dan dakwah ini akan gembira terhadap kader yang kaya inisiatif. Sebagaimana gembiranya orang tua pada anaknya yang berinisiatif tinggi. Sang anak menyemirkan sepatu ayahnya ketika sang ayah hendak berangkat kerja. Ia suguhkan air minum hangat untuk ayahnya yang baru tiba. Ia rapikan belanjaan ibunya ketika datang dari pasar. Ia bersihkan alat-alat masaknya dan lain sebagainya. Orang tua akan sangat senang dengan perilaku anaknya dan ia akan banggakan dihadapan saudara dan tetangganya.

Syaikh Sayid Muhammad Nuh menceritakan murabbinya Syaikh Abbas Asisi yang selalu kaya inisiatif dalam berdakwah. Beliau bukan hanya kaya akan ide dan gagasan tetapi kaya pula dengan sikap dan perbuatannya. Hingga banyak orang yang tertautkan hatinya pada dakwah karena inisiatifnya yang teramat tinggi. Ada pemuda yang tertarik pada dakwah karena ia menyebut namanya yang telah ia hafal. Ada pula orang yang berjiwa kasar menjadi pengikut dakwah lantaran ia buka dengan dialog-dialog yang menarik. Dan masih banyak lagi kisah lainnya.

Kader yang berinisiatif tidak hanya semata mengandalkan point-point buku manual melainkan ia juga dapat melakukan sesuatu dengan tepat dan benar sesuai masanya yang sedang dihadapinya. Inisiatif memang tidak lahir begitu saja. Ia selalu beriringan dengan kebiasaannya untuk berbuat. Kebiasaan berbuat dapat menerobos celah sekecil apapun untuk menemukan hal-hal baru. Oleh karena itu Allah SWT. merintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berbuat.

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.(At Taubah: 105).

3. Bina ruhil mas’uliyah (Membangun jiwa tanggung jawab terhadap dakwah)

Tanggung jawab kader terhadap dakwah tidak boleh berkurang. Kader hendaknya selalu membangun rasa tanggung jawabnya setiap saat.

Berkurangnya tanggung jawab kader pada dakwah ini dapat memporak-porandakan amanah umat ini. Kader yang bertanggung jawab pada tugas tidak bisa bersantai-santai/beruncang kaki sementara kader lainnya sedang sibuk menunaikan tugas.

Jiwa tanggung jawab ini sangat dikaitkan dengan keimanan yang melekat padanya. Juga dikaitkan dengan kesertaannya menjadi umat Muhammad SAW. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.,

“Bukanlah golongan kami orang yang tidak punya perhatian terhadap urusan kaum muslimin”. (Bukhari).

Sangatlah logis bila tanggung jawab terhadap dakwah ini berhubungan erat dengan kesertaannya sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Karena merekalah yang bertanggung jawab langsung terhadap kesinambungan dakwah ini.

Tersebar luas dakwah ini atau tidak ada pada pundak mereka. Mereka yang menjadi pelanjut dakwah ini telah mendekatkan dirinya dengan para Nabi. Lantaran mereka telah melaksanakan hal yang sama dilakukan para Nabi.

Kader dakwah yang bertanggung jawab pada tugas kadang tidak bisa tidur nyenyak. Ia senantiasa berpikir keras untuk untuk kemajuan dakwah. Ia merasa malu bila tidak dapat berbuat apa-apa. Ia merasa sedih bila dakwah tidak berkembang. Ia sangat senang kalau dakwah ini menggeliat dan meraih banyak pengikut. Ia risih bila meninggalkan tugas yang masih berceceran di sana-sini. Dan ia akan senantiasa siap menyongsong tugasnya. Wajarlah bila Imam Hasan Al Banna memandang sikap kader yang tidak bertanggung jawab pada tugasnya sebagai perbuatan dosa.

Oleh karena itu kader dakwah dalam menyongsong tugas mulianya seperti pengikut Nabi Isa AS. yang setia. Merekalah kaum Hawariyun sangat peka pada tanggung jawab dan tugasnya. Sebagaimana firman Allah SWT.:

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para Hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (Ali Imran: 52).

4. Tarqiyatu ruhil badzli wat tadhhiyah (Membangkitkan semangat pengorbanan)

Pengorbanan dan perjuangan sesuatu yang niscaya. Perjuangan tidak dapat dipisahkan dengan pengorbanan. Dakwah suci ini bergerak dengan deras karena pengorbanan para kadernya. Maka semangat pengorbanan harus terus hidup di hati kader dakwah agar menjadi kepribadian mereka yang sesungguhnya. Sehingga mereka akan selalu terdepan dalam pemgorbanan.

Karenanya tidak ada dalam sejarah sebuah perjuangan ideologi yang dibangun tanpa perjuangan. Maka sudah menjadi suatu keharusan untuk berkorban dengan apa yang ada padanya demi tegaknya dakwah mulia ini.

Kader-kader yang siap berkorban menjadi syarat mutlak untuk suatu kemenangan. Dengan jiwa ini jalan mencapainya menjadi mulus. Perjalanan meraih kemenangan bak tanpa hambatan. Adalah hal patut bagi seluruh kader dakwah memberikan sesuatu yang amat diperlukan dakwah ini. Ini menjadi tanda keringanan dirinya untuk berkorban. Dalam berkorban untuk dakwah tidak pernah terbetik untuk menolaknya. Bahkan sedapat mungkin memberikan apa yang sangat berharga dalam dirinya. Jiwa dan raga.

Semangat semacam inilah yang melancarkan futuhat dakwah di berbagai negeri. Termasuk ketika menaklukan Romawi. Khalid bin Walid RA. ditanya pembesar Romawi perihal kepahlawanan kaum muslimin sehingga mereka bisa menaklukkan Romawi. Panglima Khalid RA. menjawab, ‘Kami dapat berada di depan mata kalian dan menaklukkan negeri kalian karena kami datang bersama orang-orang yang cinta mati sebagaimana kalian mencintai hidup’. Tentunya pengorbanan semacam ini pengorbanan yang maksimal. Memang Allah SWT. hanya menerima pengorbanan hamba-Nya yang maksimal. Seperti dalam Firman-Nya.

“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (Al-Maidah: 27).

Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid mengingatkan bahwa dalam perjalanan dakwah ini janganlah bersikap seperti umat Nabi Musa yang duduk-duduk berdiam diri saja menunggu datangnya kemenangan dari perjuangan Nabinya. Akan tetapi berbuat banyaklah untuk jalan dakwah ini dengan senantiasa selalu berkorban dan tidak pernah kendur semangatnya untuk berkorban. Memang semestinya demikian.

Tentu saja semangat berkorban ini tidak akan kendur manakala sikap kepatuhan kader pada ajaran ini tidak berkurang secuilpun. Mereka mematuhi ketentuan yang sudah seharusnya dijalankan. Mereka mengokohkan ruh maknawiyahnya setiap saat. Mereka berada dalam stamina spiritual yang prima. Said Hawwa menegaskan bahwa pengorbanan merupakan kepatuhan dan kepatuhan adalah syarat kemenangan. Maka siapkanlah sarana-sarana kemenangan dengan meningkatkan semangat berkorban terus menerus agar kemenenagan menjadi kenyataan yang dekat.

5. Tarqiyatu ath-Thaqah adz-Dzatiyah (Meningkatkan potensi diri)

Untuk dapat melaksanakan tugas mulia ini kader dakwah mesti menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan potensi dirinya. Agar ia bisa memberikan apa saja yang dibutuhkan dakwah ini. Meningkatkan potensi diri berawal dari penggalian potensi dan penajamannya. Adalah kemestian bagi kader untuk dapat mengenali potensinya. Sehingga ia tahu betul kemampuannya selaras dengan keperluan dakwah ini.

Menyadari kedudukan potensi kader bagi kelangsungan dakwah ini amat berarti maka para kader perlu mencermati dan mempertajamnya. Karena apapun potensi yang dimilikinya sangat berguna bagi dakwah ini. Sekalipun seperti butiran pasir. Memang secara fisik sebutir pasir sangat kecil adanya.

Dan bila dibandingkan dengan material lainnya dalam sebuah bangunan terasa begitu amat sangat kecil. Tampaknya ia bukanlah unsur penentu dalam kekokohan bangunan tersebut. Betul adanya asumsi ini bila satu butir pasir saja yang berpandangan demikian. Akan tetapi jika seluruh butiran pasir beranggapan sama maka rubuhlah bangunan tersebut.

Karena itu kader dakwah tidaklah boleh memandang remeh terhadap berbagai potensi yang diberikan kader lainnya. Malah harus menghargai potensi-potensi tersebut dan menyemangati untuk berupaya terus meningkatkannya. Sebab Allah SWT. menyukai orang-orang yang dapat ikut serta dalam barisan dakwah ini dengan potensi yang diberikan-Nya.

“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. (Al-Isra’: 84)

Sedapat mungkin setiap waktu yang bergulir potensi kader semakin tajam. Seiring berjalannya waktu potensi kualitas kader semakin membaik. Seperti ungkapan seorang ulama tatkala berjumpa dengan temannya menyatakan ‘tidak aku temukan dalam dirinya setiap berlalunya waktu kecuali semakin membaik kepribadiannya’. Bila kondisi ini menjadi watak dan kepribadian para kader dakwah. Tidak mustahil kemenangan ini amat sangat dekat.

Hayawiyatun Harakiyatun (Kedinamisan Gerak Dakwah)

Adalah suatu kepatutan bagi kader dakwah untuk mengkondisikan kepribadiannya sedemikian rupa. Dengannya gerak dakwah ini akan semakin dinamis. Bahkan akan semakin mulus melenggangkan badannya untuk berkembang dan tersebar luas. Penyebaran dakwah yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan pelosok wilayah. Sehingga kenikmatan dakwah ini dirasakan secara merata. Ini menjadi indikasi kedinamisannya.

Sebagaimana pertumbuhan fisik manusia yang dinamis adalah ketika seluruh organnya berkembang seimbang. Perkembangan tubuh yang imbang untuk dapat menjalani hidupnya yang semakin hari semakin menuntut kekuatan organ tubuhnya. Sehingga tidak boleh ada satu selpun dalam tubuhnya yang ngawur perkembangannya. Karena hal itu berdampak pada kesehatan dan kekuatan tubuhnya melakukan gerak hidupnya.

Adalah kewajiban kader dakwah untuk memenuhi kepribadian dirinya yang berimbas pada kedinamisan gerak dakwah ini. Dan kepribadian ini menjadi watak harian para kader. Maka mulailah berbenah diri secepat mungkin memenuhi tuntutannya. Terlebih bahwa kedinamisan dakwah ini memiliki dampak yang sangat besar. Bagaikan air yang terus mengalir. Aliran air akan menjadi suatu kekuatan dan energi kehidupan. Sebaliknya air yang diam tidak mengalir akan berakibat rusaknya susunan senyawa yang ada sehingga dapat merusak zat benda lainnya.

Kedinamisan gerak dakwah ini akan berdampak pada:

1. Isti’dadu lit tanfidz (Kesiapan dimobilisasi di setiap lini)

Kesiapan kader dakwah untuk bisa dimobilasasi bagi kemenangan merupakan dampak dari gerak dakwah yang dinamis. Keberadaan kader di berbagai lini dapat memudahkan memikul tugas yang semakin banyak. Selayaknya memang bagi Kader dakwah menyadari akan fungsi dan perannya. Sehingga ia dapat selalu siap sedia dimobilisasi dalam untuk proyek besar dakwah ini. bahkan kesiapan dimobilisasi dan berada pada seluruh lini dari dakwah ini menjadi indikasi kualitas kader. Sebagaimana ungkapan Rasulullah SAW. tentang prajurit yang baik adalah mereka yang berada pada tugasnya masing-masing. Bila ditugaskan pada barisan depan ia ada di sana. Dan bila ditugaskan di bagian belakang ia pun menjalankan tugasnya di sana dengan baik.

Berada pada posisinya masing-masing, kader dakwah tidaklah boleh gentar apalagi kecewa dan mengeluh. Sebab semua itu tidak akan bermanfaat bagi dirinya untuk menjalankan tugasnya. Melainkan ia sambut dengan hati senang gembira dan selalu bermohon kepada Allah SWT. agar Dia senantiasa memberikan kekuatan untuk menunaikan tugas tersebut. Sehingga ia akan menjadi satu barisan prajurit yang gagah perkasa menyelesaikan amanahnya.

“(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran: 172).

Kesiapan kader berada pada lini dakwah yang beragam karena menyadari bahwa pos-pos dakwah ini tidak boleh ada yang kosong. Kekosongan pos dakwah dapat membuka pintu kekalahan. Terlebih lagi pada pos yang sangat strategis. Cukuplah peristiwa Uhud menjadi pelajaran berharga bagi kader dakwah. Dimana pos-pos yang diringgalkan kadernya dapat menjadi peluang bagi musuh untuk mengobrak-abrik barisan kaum muslimin. Oleh karena itu apapun yang ditugaskan dakwah ini untuk menempati lini-lininya dan siap dalam keadaan dimobilisasi mesti diterima dengan antusias dan mengistijabahinya. Malah bila perlu selalu beranggapan bahwa justru disitulah letak kehidupan bagi dakwah ini.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan”. (Al-Anfal: 24).

Meski demikian tidak menutup peluang untuk menyampaikan pendapatnya tentang lini yang paling tepat bagi dirinya. Namun yang perlu diingat adalah sikap kesiapannnya untuk dimobilisasi tidak boleh sampai hilang.

2. Taqwiyatu matanah at tanzhimiah (Mengokohkan soliditas struktural)

Gerak dakwah yang dinamis berdampak pula pada kesolidan struktural dakwah. Apalagi dengan keadaan kadernya yang selalu dalam kondisi siap sedia. Keadaan ini akan mejadikan struktural tidak akan pernah keropos. Sebab sering kali penyebab kekeroposan struktural lantaran gerak dakwah yang asal menggeliat dan kadernya yang dipenuhi dengan qadhaya internal.

Sudah dapat dipastikan bahwa kader yang selalu rebut dengan urusan internal konflik akan menggembosi perjalanan dakwah. Malah gerak dakwah ini menjadi rusuh, jalan tak beraturan dan berarah.

Umar bin Abdul Aziz RA. memerintahkan kepada seluruh jajaran panglimanya untuk mencermati para prajuritnya. Agar selalu memonitor mereka sehingga dapat mengetahui aktivitas apa yang sedang mereka lakukan. Tidak dibenarkan bagi mereka berdiam diri atau tidak dalam barisannya. Perhatian yang sedemikian rupa untuk mempersempit ruang bagi kekeroposan struktural. Karena prajurit yang tidak berada dalam barisan amal akan berpeluang menjadi perusuh.

Ketahanan struktural dapat menjadi tameng yang amat kuat melawan serangan musuh. Serangan sebesar apapun tidak akan mempan untuk menerobos masuk ke dalamnya. Ketahanan ini sekaligus melindungi prajurit yang ada di dalamnya. Oleh karena itu Allah SWT. mewanti-wanti agar selalu menjaga daya tahan struktural melalui persatuan dan kesatuan prajurit yang ada di dalamnya.tidak gaduh dengan persoalan internalnya. Tidak ribut dengan qadhaya dakhiliyahnya.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (Ali Imran: 103)

3. Tawsi’atu munawarati ad da’wah (Meluasnya Manuver Dakwah)

Dampak lainnya adalah manuver dakwah semakin meluas. Ia tidak dihambat oleh urusan-urusan internal sehingga langkah geraknya semakin melebar. Apalagi misi dari dakwah ini berkembang. Maka gerakannya harus selalu berkembang baik sisi jumlah kadernya, wilayahnya, jangkauan tanggung jawabnya, tuntutan dan kebutuhannya serta sisi perkembangan lainnya
Rasulullah SAW. selalu mengamati perkembangan demi perkembangan dakwah ini dengan mendapatkan informasi dari para sahabatnya. Sehingga beliau dapat membayangkan masa-masa yang akan terjadi pada dakwah dan umatnya setelah hamasah nabawiyah(kepekaan kenabiannya) tentunya.

Paling tidak dengan kondisi kader dan struktural yang mapan tanpa hambatan yang berarti bagi dakwah ini penyebarluasan dakwah akan semakin pesat dan cepat. Sehingga dakwah ini kembali pada ashalahnya yakni miliki semua orang dari berbagai kalangan bukan hanya pada kalangan tertentu yang sangat terbatas.

Bila seluruh jajaran kader menghiasi dirinya dengan kepribadian kader dakwah sedemikian rupa dan gerak dakwah ini semakin dinamis tanpa henti atau stagnan dalam geraknya maka futuhat-futuhat dakwah ini semakin dekat. Dan pintu-pintu kemenangan itu semakin terbuka. Serta serombongan manusia akan berbondong-bondong menerimanya. Tinggal permasalahan adalah sejauh mana kemauan kader untuk menata diri dan menghiasinya dengan kepribadian tersebut. Disinilah masalahnya. Maka sejak saat ini tanamkan dalam diri kita masing-masing untuk berupaya mewujudkannya dalam diri kita. Tanpa kenal lelah dan henti. Berusahalah semaksimal mungkin semoga Allah SWT. membantu diri kita untuk mengaplikasikannya.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (An-Nur: 55)

diambil dari laman ini

Leave a comment

Filed under Uncategorized

the best of the best

by Imam Abu Eesa Niamatullah

Have you ever wondered to yourself what it actually means to be the best?

When we are told that ‘this is the best’ or ‘that was the greatest’ or ‘this will bring the most benefit’ etc, have you ever thought who on Earth gave such people/editors the authority to tell us that? In an age when we have a plethora of ‘Top 10′ or ‘Top 100′ lists on everything from cars to films, from foods to places, one wonders where is that list that will really provide some benefit to us in this current short life and the next very long one.

Well, wait no more. Below, from a choice of hundreds of narrations from our beloved Prophet Muhammad, peace be upon him, you can find 100 hadîth, in no particular order of merit, detailing ways on exactly how to become the best, how to have the most excellent characteristics, what really will prove most beneficial for us to know, what really are the greatest things to think about and hope for and indeed, how to become the most beloved of people to our Magnificent Creator, Allah, the Most High.

No more subjectivity, no more empty statements; just the divine criteria of what really is the best as developed by the very best himself, Muhammad al-Mustapha, upon whom be peace. For an explanation of the meaning of each of these hadîth, you can visit here.

So go on, don’t be ordinary. Don’t be common. Don’t be typical …

Be the best.

Sayyidina Muhammad, peace be upon him, told us:

1. “The best of the Muslims is he from whose hand and tongue the Muslims are safe.” [Muslim]

2. “The best of people are those with the most excellent character.” [Tabarâni, Sahîh]

3. “The best of people are those that bring most benefit to the rest of mankind.” [Dâraqutni, Hasan]

4. “The best of people are those who are best in fulfilling [rights].” [Ibn Mâjah, Sahîh]

5. “The best of people during fitnah is a man who takes up the reins of his horse pursuing the enemies of Allah, causing them fear yet they make him fearful too, or a man who secludes himself in the desert fulfilling the rights of Allah upon him.” [Hâkim, Sahîh]

6. “The best of mankind is my generation, then those that follow them and then those that follow them. Then there shall come a people after them who will become avaricious, who will love gluttony, and who will give witness before they are asked for it.” [Tirmidhî, Sahîh]

7. “The best of people are those who live longest and excel in their deeds, whereas the worst of people are those who live longest and corrupt their deeds.”[Tirmidhî, Sahîh]

8. “The best of women are those that please him [her husband] when he sees her, obeys him when she is commanded, and who does not secretly betray him with regards to herself and her money in that which he dislikes.” [Ahmad, Sahîh]

9. “The best of women are those that please you when you see them, obey you when commanded, and who safeguard themselves and your money in your absence.” [Tabarâni, Sahîh]

10. “The best of marriages are the easiest ones.” [Abu Dâwûd, Sahîh]

11. “The best of your dates is the Borniyyû date; it expels disease yet does not contain any disease itself.” [Hâkim, Hasan]

12. “The best of your garments are those which are white; shroud your dead in them and clothe your living with them. The best of that which you apply to your eyelids is antimony causing the eyelashes to grow and sharpening the eyesight.” [Ibn Hibbân, Sahîh]

13. “The best quality of your religion is scrupulousness.” [Hâkim, Sahîh]

14. “The best of your religion is that which is easiest.” [Ahmad, Sahîh]

15. “The best of the prayer lines for men are the first rows, the worst being the final rows. The best of the prayer lines for women are the final rows and the worst are the first rows.” [Muslim]

16. “The best prayers for women are those performed in the most secluded parts of their houses.” [Ibn Khuzaymah, Sahîh]

17. “The best of you in Islam are those who are most excellent in character as long as you deeply understand the religion.” [Ahmad, Sahîh]

18. “The best of you are the best of you in fulfilling [rights].” [Ahmad, Sahîh]

19. “The best of you are those who are best to their families, and I am the best of you to my family.” [Tirmidhî, Sahîh]

20. “The best of you are my generation, then those that follow them and then those that follow them. Then there shall come after them a people who will betray and be untrustworthy, will give witness even though they have not been asked to, will make vows yet will not fulfil them and obesity will appear amongst them.”[Bukhâri]

21. “The best of you are those who feed others and return greetings.” [Abu Ya’lâ, Hasan]

22. “The best of you is he from whom good is anticipated and safety from his evil is assured; the worst of you is he from whom nothing good is expected and one is not safe from his evil.” [Tirmidhî, Sahîh]

23. “The best thing mankind has been given is excellent character.” [Hâkim, Sahîh]

24. “The best of that which you treat yourself with is cupping.” [Hâkim, Sahîh]

25. “The best of journeys undertaken are to this Mosque of mine and the Ancient House.” [Ahmad, Sahîh]

26. “The best of which man can leave behind for himself are three: a righteous child who supplicates for him, an ongoing charity whose reward continues to reach him and knowledge which others benefit from after him.” [Ibn Hibbân, Hasan]

27. “The best Mosques for women are the most secluded parts of their houses.” [Bayhaqi, Sahîh]

28. “The best of the world’s women are four: Maryum bint ‘Imrân, Khadîjah bint Khuwaylid, Fâtimah bint Muhammad and Âsiyah the wife of Fir’awn.”[Ahmad, Sahîh]

29. “The best of days that you should perform cupping are the 17th, 19th and 21st of the month. I did not pass a single gathering of angels on the night of Isrâ’ except that they would say to me, ‘O Muhammad, perform cupping!’” [Ahmad, Sahîh]

30. “The best day on which the Sun has risen is Friday; on it Âdam was created, on it Âdam was made to enter Paradise and on it he was expelled. The Hour will not be established except on Friday.” [Muslim]

31. “Verily, the best of perfume for men is that which is strong in smell and light in colour, and the best of perfume for women is that which is strong in colour and light in smell.” [Tirmidhî, Sahîh]

32. “The most beloved of religions according to Allah the Most High is the ‘easy and flexible religion.’” [Ahmad, Hasan]

33. “The most beloved of deeds according to Allah are the continuous ones, even if they are little.” [Agreed upon]

34. “The most beloved of names according to Allah are ‘Abd Allah, ‘Abd’l-Rahmân and Hârith.” [Abu Ya’lâ, Sahîh]

35. “The most beloved of deeds according to Allah are the prayer in its right time, then to treat the parents in an excellent manner, and then Jihâd in the path of Allah.” [Agreed upon]

36. “The most beloved of deeds according to Allah is that you die and yet your tongue is still moist from the remembrance of Allah.” [Ibn Hibbân, Hasan]

37. “The most beloved words according to Allah the Most High are four: Subhânallah, Alhamdulillâh, Lâ ilâha illallah and Allahu Akbar; there is no problem with which one you start with.” [Muslim]

38. “The most beloved of speech according to Allah is when the servant says, ‘Subhânallahi wa bihamdihî’ [How Transcendent is Allah and we praise him!].”[Muslim]

39. “The most beloved of speech according to Allah the Most High is that which Allah chose for his Angels: Subhâna Rabbî wa bihamdihî, Subhâna Rabbî wa bihamdihî, Subhâna Rabbî wa bihamdihî.” [Tirmidhî, Sahîh]

40. “The most beloved of people according to Allah is he who brings most benefit, and the most beloved of deeds according to Allah the Mighty, the Magnificent, is that you bring happiness to a fellow Muslim, or relieve him of distress, or pay off his debt or stave away hunger from him. It is more beloved to me that I walk with my brother Muslim in his time of need than I stay secluded in the mosque for a month. Whoever holds back his anger, Allah will cover his faults and whoever suppresses his fury while being able to execute it, Allah will fill his heart with satisfaction on the Day of Standing. Whoever walks with his brother Muslim in need until he establishes that for him, Allah will establish his feet firmly on the day when all feet shall slip. Indeed, bad character ruins deeds just as vinegar ruins honey.” [Tabarâni, Hasan]

41. “The most beloved of people to me is ‘Â’ishah and from the men, Abu Bakr.” [Agreed upon]

42. “The best of people in recitation are those who when they recite, you see that they fear Allah.” [Bayhaqi, Sahîh]

43. “The best of your leaders are those that you love and they love you, you supplicate for them and they supplicate for you. The worst of your leaders are those that you hate and they hate you, you curse them and they curse you.” [Muslim]

44. “The best of you are those who are best in paying off their debts.” [Tahâwi, Sahîh]

45. “The best of you are those with the longest lives and most excellent character.” [Bazzâr, Sahîh]

46. “The best of you are those with the longest lives and best in action.” [Hâkim, Sahîh]

47. “The best of you are those with the softest shoulders during prayer.” [Bayhaqi, Hasan]

48. “The best of you are those who are best to their wives.” [Tirmidhî, Sahîh]

49. “The best of you are those who are best to their families.” [Tabarâni, Sahîh]

50. “The best of you during the ‘Period of Ignorance’ are the best of you in Islam as long as they deeply understand the religion.” [Bukhâri]

51. “The best of you are those who learn the Qur’ân and teach it.” [Dârimi, Sahîh]

52. “The best of companions according to Allah are those who are best to their companion and the best of neighbours according to Allah are those that are best to their neighbour.” [Tirmidhî, Sahîh]

53. “The best of places are the Mosques and the worst of places are the markets.” [Tabarâni, Hasan]

54. “The best supplication on the Day of ‘Arafah and the best thing that I and the Prophets before me ever said was, ‘Lâ ilâha illAllah wahdahû lâ sharîka lahû, lahû’l-mulk wa lahû’l-hamd wa huwa ‘alâ kulli shay’in Qadîr.’” [Tirmidhî, Hasan]

55. “The best of provision is that which suffices.” [Ahmad in ‘Zuhd’, Hasan]

56. “The best testimony is when one gives it before he is asked to do so.” [Tabarâni, Sahîh]

57. “The best of dowries are the easiest.” [Hâkim, Sahîh]

58. “The best of charity is that which still leaves you self-sufficient for the upper hand is better than the lower hand; start with those you are responsible for.”[Tabarâni, Sahîh]

59. “The best of gatherings are those that are most open.” [Abu Dâwûd, Sahîh]

60. “The most beloved deed according to Allah is to have faith in Allah, then to maintain the ties of kinship, and then to command to good and forbid the wrong. The most abhorrent of deeds according to Allah is to associate partners with Him, then to cut the ties of kinship.” [Abu Ya’lâ, Hasan]

61. “The most beloved Jihâd according to Allah is that a word of truth be spoken to a tyrant ruler.” [Tabarâni, Hasan]

62. “The most beloved word according to me is that which is most truthful.” [Bukhâri]

63. “The most beloved fast according to Allah is the fast of Dâwûd; he would fast every alternate day. The most beloved prayer according to Allah is the prayer of Dâwûd; he would sleep half the night, stand a third and then sleep for a sixth.” [Agreed upon]

64. “The most beloved dish according to Allah is that which most hands feed from.” [Ibn Hibbân, Hasan]

65. “The most beloved servant of Allah is he who is most beneficial to his dependents.” [Zawâ’id al-Zuhd, Hasan]

66. “The best of earnings is that of the labourer as long as he tries his best.” [Ahmad, Hasan]

67. “The best of all deeds is to have faith in Allah alone, then Jihâd and then an accepted Hajj; they surpass all other deeds like the distance between the rising and setting of the Sun.” [Ahmad, Sahîh]

68. “The best of all deeds is the Prayer at its earliest time.” [Tirmidhî, Sahîh]

69. “The best of all deeds is the Prayer in its right time, to treat the Parents honourably and Jihâd in the path of Allah.” [al-Khatîb, Sahîh]

70. “The best of all deeds is that you bring happiness to your Muslim brother, pay off his debt or feed him bread.” [Ibn Adiyy, Hasan]

71. “The best of faith is patience and magnanimity.” [Ahmad, Sahîh]

72. “The best of days according to Allah is Friday.” [Bayhaqi, Sahîh]

73. “The best of Jihâd is that man strives against his soul and desires.” [Daylami, Sahîh]

74. “The best Hajj is that with the most raised voices and flowing blood.” [Tirmidhî, Hasan]

75. “The best of supplications is that of on the Day of ‘Arafah, and the best thing that was said by myself and the Prophets before me was, “Lâ ilâha illallah wahdahû lâ sharîka lahû.” [There is nothing worthy of worship except Allah alone, He has no partners.] [Mâlik, Hasan]

76. “The best of dinars are: the dinâr spent by a man upon his dependents, the dinâr spent by a man upon his horse in the path of Allah and the dinâr spent by a man upon his companions in the path of Allah, the Mighty, the Magnificent.” [Muslim]

77. “The best word of remembrance is: Lâ ilâha illallah and the best supplication is: Alhamdulillâh.” [Tirmidhî, Hasan]

78. “The best word of remembrance is: Lâ ilâha illallah and the best [expression of giving] thanks is: Alhamdulillâh.” [Baghawi, Hasan]

79. “The best of hours are those deep in the latter part of the night.” [Tabarâni, Sahîh]

80. “The best of all martyrs are those who fight in the front line; they do not turn their faces away until they are killed. They will be rolling around in the highest rooms of Paradise, their Lord laughing at them – when your Lord laughs at a servant, there is no accounting for him.” [Ahmad, Sahîh]

81. “The best of all martyrs is he whose blood is shed and whose horse is slaughtered.” [Tabarâni, Sahîh]

82. “The best of all charity is the shade of a canopy [provided] in the path of Allah, the Mighty and Magnificent, to gift ones servant in the path of Allah and to gift ones she-camel in the path of Allah.” [Ahmad, Hasan]

83. “The best of all charity is that which is given to the relative that harbours enmity against you.” [Ahmad, Sahîh]

84. “The best of all charity is that you give it while you are healthy and desirous [of that money], hoping to become wealthy but fearing poverty. Don’t delay until you are about to breathe your last and then you say, ‘This is for ’so and so’ and this is for ’so and so”, for indeed, it has already been written that ’so and so’ would receive that.” [Abu Dâwûd, Sahîh]

85. “The best of all charity is when the one with little strives to give; start with those you are responsible for.” [Hâkim, Sahîh]

86. “The best charity is to provide water.” [Ibn Mâjah, Hasan]

87. “The best prayer after the obligatory ones is the prayer in the depth of the night, and the best fast after the month of Ramadhân is the month of Allah, Muharram.” [Muslim]

88. “The best prayer is the prayer of the man in his home except for the obligatory prayer.” [Nasâ’î, Sahîh]

89. “The best prayer is that with the longest standing.” [Muslim]

90. “The best of all prayers according to Allah is the Friday morning prayer in congregation.” [Ibn Nu’aym, Sahîh]

91. “The best fast is the fast of my brother Dâwûd; he would fast every alternate day and he would never flee [the battlefront] when the armies would meet.”[Tirmidhî, Sahîh]

92. “The best of all fasts after Ramadhân is in the month that you call Muharram.” [Nasâ’î, Sahîh]

93. “The best of all worship is supplication.” [Hâkim, Sahîh]

94. “The best deed is the prayer in its right time and Jihâd in the path of Allah.” [Bayhaqi, Sahîh]

95. “The best of the Qur’ân is: “Alhamdulillâhi Rabb’l-’Âlamîn”. [Hâkim, Sahîh]

96. “The best of earnings is a blessed sale and that which a man earns with his hands.” [Ahmad, Sahîh]

97. “The best of the Believers is the most excellent of them in character.” [Ibn Mâjah, Sahîh]

98. “The best of the Believers with respect to Islam is the one from whose hand and tongue the Muslims are safe; and the best of the Believers with respect to Îmân are the most excellent of them in character; and the best of those who migrate is he who migrates from that which Allah the Most High has prohibited; and the best of Jihâd is when one strives against his soul for the sake of Allah, the Mighty, the Magnificent.” [Tabarâni, Sahîh]

99. “The best of mankind is the believer between two honourable persons.” [Tabarâni, Sahîh]

100. “The best of all days in the world are the ten days [of Dhul Hijjah].” [Bazzâr, Sahîh]

1 Comment

Filed under Uncategorized

Generasi Salahuddin Al-Ayyubi: Adakah Kita Serius?

1.    Salahuddin Al-Ayyubi adalah seorang pahlawan sejati yang tidak perlu lagi diperkenalkan di kalangan kita.

2.    Ramai muslimin dan muslimat beriya-iya mahu melahirkan anak-anak seperti beliau yang satu hari nanti akan menjadi seorang pejuang syiar Islam dan menjadi penyelamat ummah. Persoalannya di sini, adakah kita benar-benar serius?

3.    Sebelum saya pergi lebih jauh ke dalam perbincangan ini biarlah saya menekankan beberapa perkara mengenai Salahuddin Al-Ayyubi yang saya ketahui:

a)      Beliau adalah seorang yang berbangsa Kurdish.

b)      Dibesarkan oleh kedua ibu –bapanya di Tikrit, Iraq.

c)       Beliau dilatih menunggang kuda seawal umur 7 tahun.

d)      Pada umur 15 tahun beliau sudah mahir bermain senjata-senjata yang digunakan dalam peperangan am pada waktu itu. (pedang, tombak dsb.)

e)      Beliau kemudiannya berkhidmat di bawah Nuruddin Az-Zaitangi dan seterusnya beliau berjaya menjadi panglima perang sendiri sebelum beliau membebaskan Baitulmaqdis.

f)       Di awal hidupnya, beliau dikatakan tidaklah begitu mendalami agama sangat tetapi beliau mendapat didikan agama yang cukup daripada kedua ibu dan bapanya serta tuannya yang awal, iaitu Nuruddin Az-Zaitangi yang juga merupakan seorang pemerintah yang wara’. Satu fakta menarik yang mungkin anda tidak ketahui mengenai Az-Zaitangi ialah beliau merupakan orang yang bertanggungjawab meletakkan jerajak besi di sekeliling makam Nabi s.a.w sehingga ke bawah tanah untuk menghalang sebarang percubaan musuh-musuh Islam yang mahu mencuri jasad Nabi s.a.w. Percubaan sebelumnya pernah dilakukan oleh dua orang Yahudi dan ia diketahui oleh Az-Zaitangi  apabila Nabi s.a.w muncul sendiri dalam mimpi Az-Zaitangi untuk meminta tolong beliau bagi menggagalkan percubaan tersebut.

4)    Berbalik kepada Salahuddin Al-Ayyubi, beliau menjadi seorang pejuang yang hebat kerana beliau menerima acuan pahlawan seawal umur 7 tahun. Inilah sebenarnya kenapa saya mempersoalkan keseriusan umat Islam di Malaysia untuk melahirkan generasi Salahuddin Al-Ayyubi. Saya melihat acuan pahlawan yang membentuk pejuang-pejuang seperti Khalid Ibnu Walid, Salahuddin Al-Ayyubi dan Sultan Muhammad Al-Fateh tidak ada pada kanak-kanak yang satu hari nanti diimpikan akan menjadi seperti mereka.

5)   Saya tidak menafikan acuan iman dan taqwa yang diberikan kepada kanak-kanak didikan Islam cukup lengkap dan komprehensif. Saya tahu bahawa silibus iman dan taqwa yang diberikan kepada kanak-kanak Islam di Malaysia cukup tersusun dan teliti. Saya cuma menegaskan bahawa kita tidak boleh mengenepikan acuan pahlawan yang diterima oleh ketiga-tiga tokoh yang disebutkan tadi dalam membentuk peribadi mereka yang gagah dan taat kepada perintah dalam memperjuangkan Islam jika kita betul-betul serius mahu melahirkan pejuang dan tentera-tentera Allah yang sejati.

6)     Saya pernah melihat sendiri acuan dan didikan pahlawan yang diterima oleh kanak-kanak di Gaza dan Lebanon melalui youtube. Seawal mereka boleh bercakap, ABC yang mereka pelajari adalah seperti berikut:

A =Apache

B = bomb

C = Canister (canister gas pemedih mata)

D = Dreadnought. (Kapal Selam Israel buatan Russia yang menghentam Gaza dengan peluru berpandu bawah laut)

Kanak-kanak di sana juga diajar memegang pistol, berkawat, dan menembak seawal umur 7 tahun di samping mereka juga menerima didikan Islam untuk membentuk acuan iman dan taqwa. Bandingkanlah didikan kanak-kanak mereka dengan kanak-kanak kita. Berdasarkan didikan yang diterima, siapakah yang akan membesar menjadi pejuang dan tentera-tentera Allah yang sejati?

7)   Musuh-musuh kita di Amerika Syarikat juga menyedari hakikat ini dan mereka juga berusaha melahirkan pejuang-pejuang hebat untuk menjayakan agenda laknatullah mereka. Mereka sedar untuk melahirkan pejuang-pejuang yang hebat mereka perlu mendidik anak-anak mereka dengan acuan pahlawan. Menerusi salah satu perlembagaan mereka, iaitu “the freedom to bear arms”, mereka menjadikan pemilikan senjata sebagai  satu hobi dan mereka mengajarkan pula hobi tersebut kepada anak-anak mereka. Saya tidak hairan apabila melihat seorang kanak-kanak U.S boleh memenangi pertandingan smoothbore rifle shooting di peringkat antarabangsa. Budaya pemilikan senjata api ini lebih hebat di kalangan negeri-negeri yang konservatif seperti Texas, Michigan, Missouri dan lain-lain. Saya berpendapat  bahawa ini adalah satu sebab kenapa tentera-tentera U.S begitu hebat dalam berperang dan menakluk, ditambah pula dengan teknologi persenjataan mereka yang jauh lebih canggih.

8)   Saya tidak menyuruh anda mengangkat senjata dan berperang. Apa yang saya cuba sampaikan ialah dalam membentuk seorang pejuang, kita tidak boleh menolak ke tepi acuan pahlawan yang mesti diberi. Saya berharap tulisan ini sedikit sebanyak dapat membuat anda berfikir tentang keseriusan anda untuk melahirkan pejuang Islam yang sejati. Saya juga berharap bahawa cita-cita kita untuk membebaskan BaitulMaqdis masih segar dan mekar dalam hati dan kita perlu sedar bahawa untuk mencapai cita-cita tersebut memerlukan generasi seterusnya yang terdidik dengan acuan pahlawan,  acuan iman dan acuan taqwa seperti mana Khalid Ibnu Walid, Salahuddin Al-Ayyubi dan Sultan Muhammad Al-Fateh pernah dididik. Sekian.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Agama, Ideologi dan Doktrin

Saya masih teringat dalam usrah terakhir pada tahun lepas saya mempersoalkan Islam sebagai penyelesaian kepada masalah manusia. Saya juga masih ingat bagaimana ustaz Afnan kemudian menanyakan kembali kepada saya atas dasar apa saya beriman kepada Allah kerana mempersoalkan isu tersebut sampai ke tahap itu. Rakan-rakan seusrah juga ramai yang tidak berpuas hati  dengan tindakan saya yang dilihat melampau dan agak biadap.

Saya ingin menyatakan saya tidak pernah sesekali mempersoalkan kewujudan Allah Taa’la atau keEsaaNya. Apa yang saya persoalkan sebenarnya adalah indoktrinasi yang berlaku dalam gerakan Islam. Dalam mempersoalkan perkara ini kita perlu faham perbezaan dan tingkatan-tingkatan gerakan dari peringkat agama, ideology dan doktrin. Agama itu adalah hidup dan ia merangkumi semua aspek kehidupan. Ideologi itu adalah lebih spesifik dan hanya merangkumi satu perkara. Contoh yang paling mudah ialah komunisme vs kapitalisme. Kedua-dua ideologi ini hanya merangkumi pembahagian harta negara dalam satu sistem ekonomi dan pengelibatan kerajaan dalam sistem tersebut. Dalam komunisme sendiri kita dapat lihat perbezaan doktrin-doktrin antara Mao Tze Sung, Lenin dan lain-lain. Perkara ini memang telah ditekankan kepada saya dalam falsafah ilmu semasa di Kolej Mara Banting dahulu. Simply put:

Religion is life.

Democracy,theocracy, capitalism and communism are systems which forms parts of our life in society.

Doctrines are the do’s and don’ts in a particular system.

Apa yang saya persoalkan adalah perbuatan sesetengah pihak yang mengehadkan Islam kepada do’s and don’ts sahaja; iaitu mengindoktrinasikan orang lain. Mereka berkata bahawa Islam itu ada penyelesaian untuk semua masalah manusia dan kemudian mereka berkata; buat macam ini dan jangan buat macam yang ini (do this but don’t do these other things). Saya harap pembaca sekalian boleh faham  apa yang saya cuba sampaikan. Agama itu sifatnya adalah petunjuk, bukannya penyelesaian yang spot-on  seperti yang pernah disebutkan oleh ustaz Hasrizal dalam tulisannya; agama itu bukan cul-de-sac. Saya tidak nafikan dalam Islam ada dos and don’ts yang memang wajib kita lakukan seperti solat, jangan makan babi dan sebagainya. Tapi dalam menempuh kehidupan seharian banyak perkara yang jatuh dalam  “the-grey-area” dan saya cuma berharap apabila keadaan itu berlaku, kita tidak terlalu cepat mengatakan, “Buat macam ini dan jangan buat seperti itu” kemudian kita mengatakan pula, “Ini adalah tuntutan Islam”. Islam itu adalah agama yang membawa petunjuk. Sejumlah manusia walaupun ditunjuk jalan penyelesaiannya belum tentu dapat melihat apatah lagi menempuhnya. Islam bukan doktrin. Sekian.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

The story of Salahuddin

When Islam faced a massive attack from Crusader Europe, one man united the Muslims and led them to victory over the enemy. Salahuddin Ayubi rescued Jerusalem from the Crusaders and fought off one of the most menacing enemies that Muslims have ever faced.

Warrior

Jerusalem was important to the Muslims because it contained the Dome of Rock, where Prophet Muhammad (s.a.w) ascended to heaven, and the Masjid al Aqsa. Christians also valued Jerusalem as it contained the church of Jesus’ tomb.

In 1095 the Pope urged the Christians to unite and take Jerusalem. Four years later, Christian forces captured Jerusalem and slaughtered Muslims in the process.

By 1176 Salahuddin had become a powerful Muslim ruler. Even though the Crusaders had signed a peace treaty with Salahuddin, Reynald (a Christian prince) attacked a pilgrim caravan on its way to Hajj. He even planned to attack Makkah and Madinah to destroy the grave of Prophet Muhammad (s.a.w). Salahuddin made the call for Jihad and united all Muslim states to defend Islam.

The Crusaders gathered their armies and confronted Salahuddin at a place called Hattin. Salahuddin prevented access to water by blockading lake Tiberas, and left the thirsty Christians without water throughout the night. Then when the sun blazed Salahuddin started bush fires, which glared into the eyes of the crusaders. Salahuddin’s archers then shot their arrows at the Crusaders. The Crusaders charged at the Muslims and managed to break the lines. However Salahuddin’s armies closed in behind them, leaving them trapped. Salahuddin made the final charge and cut through the Christians, the battle had been won.

Salahuddin took back Jerusalem in 1187 after 88 years of occupation; this would forever be remembered as Salahuddin’s greatest achievement and it made him a hero of Islam. He will be remembered as the Rectifier of Faith because he brought faith back to the Holy Land.

Role model

Salahuddin was a devout Muslim who would never miss his daily prayers. He loved hearing the Quran and would weep at the beauty of Allah (s.w.t)’s words. He was an Islamic scholar who would often journey just to gain more knowledge. He disliked people who brought unnecessary debate and controversy into Islam.

Salahuddin built schools and abolished taxes that pilgrims had to pay on their way to Makkah. He had great compassion, mercy and generosity. He was known to give jewels away to schools and hospitals. At his death he was the most powerful ruler of Islam there had been since the Prophet (s.a.w), but he had only 1 gold piece and 47 silver pieces to his name, and owned no property.

Many people and leaders of today dwell on worldly goods, they should look at Salahuddin as an example. He placed Islam above everything else.

Salahuddin was very courageous. He rose to the occasion in battle; he never showed any anxiety about the numbers and strength of the enemy. This was due to his strong faith in Allah (s.w.t).

The Muslim youth should look up to him as a role model. His generosity, courage and devotion to faith should inspire us all to be better Muslims.

Al-Afdal his son had the following description placed on his tomb:

‘Almighty Allah, look upon his soul and open to him the gates of Paradise, the last victory for which he hoped.

2 Comments

Filed under Uncategorized

songs of innocence


Songs of Innocence

chorus
Allahu Allahu La ilaha illa Hu

And I sing my songs of innocence
To you my precious child as you lay on your bed
With your sleepy eyes and your heavy head
Rest and dream in peace till morning comes again

I will sing my songs of innocence
I will sing my songs of innocence

And I sing my songs of innocence
As I watch you sleep, think what may lie ahead.
So many the roads that before you spread
Take the way, my child, to the Beloved Friend

Lead a life of truth and innocence
The way of sunnah, the path of the Prophet
Let your words be echoes of his sentences
Let your deeds be shadows of his radiance.

And though the world outside seems cold and hard
And you may feel like you are wandering alone
Do not fear, do not grieve, in Allah place your belief
In his remembrance your heart will find its peace

And I gaze at you in wonderment
How your heart is filled with innocence.
You�ll never know the joy you bring to me
How your touch and smile dispel my every grief

May you never lose your innocence
With life�s bittersweet experience
And when the time comes, remember this:
Wisdom is the refinding of innocence.
[ http://www.thenasheedlyrics.com ]

Now you�re breathing easy, I must call an end
I have sung my song of innocence
And if our paths should never cross again
May God�s peace and mercy upon you descend

We will meet at the gathering of innocence
At al-Kauthar, the fount of abundance
By the Prophet�s hand may our thirst be quenched
We will be with him, and we will be content

Salallahu `alayhi wa alihi
Peace and blessings on him and his family
And all who follow in his blessed way
You and I, my child, may we among them be
You and I, my child, may we among them be�

Will you help me learn of innocence?
Sing a song of love and innocence?
Will you help me find my way back home?
Will you fill my heart with innocence?
May I come to you an innocent?
Let me sing my song of innocence.

Leave a comment

Filed under Uncategorized